Kehidupan-Kehidupan Lain dari Faizal Akbar
Dalam perjalanan ke kantor suatu pagi saya mengingat dulu ketika saya menjadi penabuh drum dari sebuah band terkenal. Kami menghasilkan banyak sekali lagu hits, dan melakukan Tur ke berbagai belahan dunia. Walaupun kadang penabuh drum hanya dianggap sebagai tambahan yang posisinya tidak begitu signifikan dalam sebuah formasi band, keberadaanya tetap saja penting. Pernah pada satu konser kami melakukan aksi panggung dengan saling menukar posisi. Pembetot bassnya bermain drum, penabuh drumnya bernyanyi, si penyanyi memetik gitar. Tentu saja kami melakukannya dengan sangat mudah karena kami memang sepiawai itu. Hal itu kami lakukan dengan tujuan menghibur para fans kami.
Saya kemudian memutar di Jalan Pettarani dan ingatan saya kembali pada pekerjaan.
Kenyataan kemudian mengambil alih dengan segala macam keruwetan dan tetek bengeknya. Kehidupan kadang-kadang berjalan begitu cepat ketika bekerja. Malam turun tanpa disadari atau kadang-kadang pagi datang tanpa permisi.
Ketika pulang pun motor yang saya kendarai seolah melaju dalam mode auto-pilot. Hal ini memungkinkan otak bebas dari beban berpikir dan mengingat hal yang terjadi beberapa tahun silam ketika saya harus membantu Naruto menyelamatkan dunia Ninja. Pada saat itu Madara melakukan jurus terlarangnya dan menghipnotis penduduk bumi menggunakan monster bijuu. Bersama Naruto, Sasuke, dan Sakura saya berhasil mengalahakan Madara dan mengembalikan kedamaian pada dunia ninja.
Kata Mittyesque berarti berusaha kabur dari realita yang dihadapi dengan melamun atau mengkhayal (escapist). Cuplikan cerita di atas adalah suatu hal yang percaya atau tidak benar-benar terjadi. Tentu saja bukan dalam artian saya menjadi Seorang superstar atau menyelamatkan dunia ninja dari kehancuran. Saya benar-benar melamunkan hal tersebut.
Kabur dari realita atau berkhayal bisa jadi menurut orang-orang adalah suatu ekspresi ketidakpuasaan atas apa yang terjadi dalam kehidupan. Setidaknya itu yang saya percayai sebelumnya.
Namun ternyata, James Thurber dalam edisi cetak New York Times 18 maret 1939 menuliskan kondisi ini dalam sebuah cerita pendek berjudul The secret Life of Walter Mitty. Setelah mengetahui ini saya yakin banyak orang lain mengalami hal sama. Berkhayal dan membayangkan diri melakoni kehidupan-kehidupan lain ternyata bukan suatu hal yang hanya dialami oleh seorang laki-laki yang tinggal di suatu tempat di sebuah negara bernama Indonesia.
Tentu saja ada perasaan bersalah yang muncul dari keseringan berkhayal karena dunia tidak berputar dalam khayalan itu. Tapi tidak perlu juga menyalahkan diri sendiri ketika hal tersebut terjadi karena ternyata itu terjadi pada banyak sekali orang.
Saya mengendarai motor saya pulang ke rumah dengan perut kekenyangan. Di negara ini tidak ada orang kelaparan karena pemerintahnya berhasil mengentaskan kemiskinan. Orang sakit pun jarang sekali ada, sampai beberapa rumah sakit harus tutup karena kekurangan orang sakit.
Saya berbelok kiri di pertigaan kembali ke dunia nyata.
(Catatan: The Secret Life of Walter Mitty (juga) adalah sebuh film arahan Ben Stiller yang terinspirasi dari sebuah short story karangan James Thurber dengan judul sama. Kamu bisa membaca sinopsis film itu di sini dan membaca short story-nya di sini.)