1998

Faizal Bochari
3 min readJul 24, 2020

--

Terdengar suara dengkuran bapak dari kamar tidurnya.

“saatnya pergi bermain” saya membatin.

Saya selalu saja mendapati diri dalam pilihan yang sulit antara harus mengaji terlebih dahulu lalu bisa langsung bermain atau pura-pura tidur siang sambil menunggu bapak pulas tertidur. Durasi antara bapak pulang dari sekolah sampai ia mendengkur adalah pertaruhan yang mau tidak mau harus saya ambil dan saya tidak pernah tahu seberapa lama harus menunggu.

“ini nasi kotak, tadi habis rapat di sekolah” kata bapak suatu hari.

Saya langsung mengambil nasi kotak yang biasanya berisi nasi, ayam kecap, sayur, dan sebiji pisang lalu melahapnya sampai hanya menyisahkan sayur yang selalu tidak tersentuh.

“makan itu sayur, sehat itu” kata bapak sambil menggantung baju dinasnya di belakang pintu kamar.

“tadi juga di sekolah ada rapat guru-guru jadi cepat pulang” kataku tidak begitu peduli.

“memang lagi rapat semua guru-guru itu” lanjutnya sembari menyalakan televisi dan kipas angin. ia berbaring setelah berganti kostum menjadi sarung kotak-kotak hijau dan baju dalam putih tanpa lengan sambil memegang remote Televisi mencari siaran.

Televisi tabung tua berukuran kecil yang kata ibu sudah beberapa kali tersambar petir itu baru saja diperbaiki beberapa minggu sebelumnya dan ajaibnya masih bisa menyala.

waktu itu hampir semua televisi sedang menayangkan liputan demonstrasi besar-besaran yang katanya sedang terjadi di seluruh indonesia. Tak mempedulikan itu saya segera saja pergi bermain. Bapak mungkin terlalu capek untuk mengajar mengaji hari itu, ia membiarkanku pergi begitu saja.

Bau padi yang baru saja di panen dan dibiarkan menumpuk di tengah-tengah sawah terbawah angin. Sawah yang kelak akan menjadi lapangan bola lalu kembali menjadi sawah lalu berakhir menjadi rumah tetangga.

Itu adalah hal tidak pernah saya sesali kemudian. Mereka adalah orang-orang baik hati dengan masalah hidup yang hampir sama dengan yang kami miliki. Masalah yang sama selalu bisa menjadi tali penguat yang ajaib.

“putus ki itu layang-layang sana” teriak salah satu temanku.

kami menghentikan aktifitas perlayangan kami dan berlari mengejar layang putus itu.

“siapa cepat dia yang ambil itu na” mengulang kembali konvensi sosial yang kami sama-sama tahu berlaku dalam hal perburuan layang-layang.

namun pada akhir karena tersangkut di kabel antara dua tiang listrik, tidak ada anak manusia manapun yang berani mengambilnya karena takut tersambar listrik. istilah yang di kemudian hari setelah berkuliah beberapa semester di makassar harus kami koreksi menjadi tersengat listrik.

Suatu hari sepupuku yang sudah kuliah beberapa semester di salah satu kampus di makassar datang berkunjung.

“mau saya installkan game baru?” tanyanya sambil mengikat rambutnya yang terurai panjang.

Dia keluarkan sebuah CD dari tas kecil berisi kumpulan CD yang barangkali bisa berpuluh-puluh jumlahnya dan tidak berhenti di situ, dia punya beberapa tas yang kurang lebih memuat CD dengan jumlah yang sama.

“Menjadi mahasiswa sungguh mengagumkan “ pikirku.

Aku menagangguk. Baju hitam tanpa lengan yang ia pakai dan celana denim yang robek di sana-sini tidak pernah menjadi hal yang mengganggu bagiku. Gaya yang pada saat berkuliah kelak coba saya tiru tapi fashion mahasiswa kala itu tidak sama lagi dan akhirnya itu kelihatan norak.

Menunggu instal-an selesai yang bisa memakan waktu berjam-jam, ia berpindah ke ruang tamu tertarik dengan banyak sekali buku yang ada di dalam lemari.

Bapak yang guru ekonomi memiliki banyak sekali koleksi buku dari makro sampai mikro yang tentu saja tidak menarik sama sekali bagi seorang anak di usia sekolah dasar.

Bagiku kalah itu yang menarik adalah kartun minggu, bertemu dengan teman-teman dan memutuskan hari ini bermain apa, nasi kotak yang sengaja tidak dimakan oleh bapak, membaca buku, bermain bola di jalanan beraspal atau di lapangan yang sebelumnya adalah sawah, membeli tamiya. Saya bisa saja meneruskan daftar panjang ini namun pasti akan membuatmu bosan jadi mari kita lanjutkan.

ia mengambil sebuah buku dan menuliskan sebuah kalimat di sampulnya.

“kamu tahu buku apa ini?”

tentu saja saya tidak peduli buku apa itu.

Bertahun-tahun kemudian setelah menamatkan kuliah di makassar saya pulang ke rumah. Saya menemukan buku itu kembali. Ada foto seorang kakek tua dengan senyum sangat ramah di sampulnya ada juga tulisan tangan sepupuku.

“32 tahun membohongi rakyat” tulisnya.

--

--

Responses (1)